Senin, 08 Oktober 2012

"... dan aku memalingkan wajahku, membiarkannya berlalu, memutuskan untuk kembali menjadi pengecut."

Rabu, 03 Oktober 2012

"Kau itu seperti Kim Bum, Devon Bostick, Kim Heechul--hanya untuk diimpikan, bukan untuk dimiliki..."

Sabtu, 29 September 2012

Pencuri

Dengar ini baik-baik!
Kau yang disana. Ya, kau.
Mengambil atau mengganggu milik orang lain adalah kesalahan. Dan dari sudut pandang manapun akan tetap salah! Mengerti? Dasar pencuri!

Jumat, 28 September 2012

Antagonis

Lihatlah, bahkan aku tak becus menjadi antagonis!
Setidaknya tokoh antagonis harus bertahan sampai akhir, bukan menyerah dengan sukarela pada si protagonis hanya karena menyadari si protagonis lebih baik darinya.
Dasar bodoh!


"... Dan kuputuskan untuk mengikuti apa yang Tuhan katakan. Melepaskannya. Kembali mengejar mimpi. Aku masih dan akan selalu percaya Tuhan tau yang terbaik untukku."


Sabtu, 15 September 2012

"Aku menunggu pangeran impian datang, tapi setelah ia datang aku justru merasa malu karena tidak sepadan dengannya..."

Minggu, 26 Agustus 2012

Falling








Jatuh


Benar. Jatuh itu bukan pilihan. Berapa pun kau coba menjauh, kau akan mendapati dirimu menetapnya dalam lamunan, menyadari benakmu dipenuhi ekspresi wajahnya, terjaga dari tidur yang dipenuhi impi-impi tentangnya.
Tak ada yang ingin jatuh di tempat yang salah. Tak ada yang ingin jatuh pada orang yang tak tepat. Namun kau tidak pernah tau kapan dan dimana kau akan terjatuh, hingga saatnya tiba, kau hanya akan ‘terjatuh’. Sekeras apapun kau menyangkal, sedalam apapun kau menyesal, rasamu akan semakin kekal. Bertambah kuat disetiap detiknya.
Sebenarnya tidak ada yang salah, jika orang itu tepat, kau bisa jatuh dengan bebas, bahkan melompat ke pelukannya. Namun bila salah, kau akan merasakannya. Penyangkalan yang terjadi disetiap detak jantungmu, disetiap hela nafasmu, disetiap detik yang kau lewati dalam kebahagiaan sederhana yang diam-diam kau nikmati di sela-sela rasa bersalah.
Kau tak tau jatuh bisa begitu terasa fatal. Selanjutnya, kaulah yang memutuskan, melanjutkannya dan berjuang untuknya atau menghentikannya sampai disini. Melepaskan kebahagiaan itu, melepaskannya.
Sebenarnya soal melepaskan hanya masalah waktu, perbedaannya hanya apa kau sempat memilikinya, atau tidak. Seberapa pentingnya memiliki, hanya kau yang bisa memutuskan. Ada orang yang dengan tulus bisa mengasihi tanpa memiliki, tapi beberapa yang lain merasa memiliki adalah  bagian dari mengasihi. Tak ada yang salah, egoisme itu bagian dari sifat manusia. Tak usah merasa sungkan untuk ingin memiliki, selama takarannya tepat, itu sangat manusiawi.
Percaya ataupun tidak, mengabaikan rasa ingin memiliki sangat sulit. Bila kau bukan orang tulus yang biasa merelakan sesuatu untuk orang lain, ini akan sangat sulit. Namun aku masih percaya tak ada yang tak mungkin, kuharap kau juga masih mempercayainya. Sesulit apapun bila kau berusaha, kau akan berhasil. Dan percayalah, bila orang itu bukan untukmu, maka Tuhan telah mempersiapkan orang yang lebih baik untukmu—terbaik.

Kamis, 23 Agustus 2012

Disney's Princess





"Mereka juga mengalami masa-masa sulit, tapi mereka baik-baik saja kan? Karena itu jangan khawatir, kau dan aku juga akan baik-baik saja, kita akan mendapat akhir yang bahagia seperti mereka."

Senin, 30 Juli 2012

Percakapan Perpisahan

"Kenapa kau tidak menangis?"
"Kenapa aku harus menangis?"
"...karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi."
"Kalaupun aku menangis, setelah air mataku kering, kau akan tetap pergi bukan?"
"..."
"Karena seerat apapun aku memelukmu saat ini, kau tetap akan melepaskannya dengan mudah."
"..."
"Aku tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia. Karena itu, pergilah. Jangan buang waktumu."



Minggu, 22 Juli 2012

Peringatan untuk orang MUNAFIK disana


Dengar ini baik-baik
Saya bukan gadis baik hati yang akan dengan mudah memaafkanmu
Kalo saya mau, saya bisa jadi antagonis, menyiksa kamu perlahan sampai kamu mati
Kalo saya mau, saya bisa jadi  stalker, mengintai kamu dan keluargamu, membuat hidupmu menjadi mimpi buruk
Kalo saya mau, saya bisa jadi psikopat, bunuh kamu di tengah malam dan buang mayatmu diselokan
Kalo saya mau, saya bisa jadi penjagal, memutilasi badan kamu dan menjual organ tubuh kamu ke pasar gelap
Tapi tidak, saya memutuskan untuk menyerahkan balasanmu pada Tuhan. 
Saya tau Tuhan tidak pernah tidur
Saya percaya Tuhan Maha Melihat
Saya yakin, balasannya untukmu akan jauh lebih pedih dari yang bisa diberikan siapapun didunia ini
Karena itu, bersiaplah, sesungguhnya siksaan yang berat menantimu!







Jumat, 11 Mei 2012

"Perasaan itu, kini kubiarkan hilang... 
Menguap perlahan bersama dengan embun pagi yang terbakar cahaya matahari..."

Sabtu, 31 Maret 2012

Aku tak tau apa yang terjadi antara aku dan kau..
Yang ku tau pasti, ku benci tuk....

Minggu, 26 Februari 2012

"Mungkin suatu hari, aku sudah lupa dan lebih tenang dalam menjalani hidup. Hari itu aku sudah lupa dengan semua yang telah terjadi, dan dokumen itu hanya menjadi dokumen yang tak akan terbuka lagi. Seandainya dokumen itu terbuka lagi pun, tak akan ada yang terjadi, aku tak akan menangisinya lagi. Karena semua sudah berakhir."

Jumat, 06 Januari 2012

Mi Cokro

Udah malem ya?
Ajaib banget bisa melek jam segini. Hehe
Tapi gara-gara kemaleman jadi pengen cerita yang aneh-aneh nih. Mumpung semuanya udah pada bobo, aku pengen cerita tentang sesuatu yang sangat aneh (buat aku). Tentang pacar.
Keliatan kali ya, aku kan jarang banget pacaran. Emang nggak punya sih sebenernya, ehehe. Nggak berniat punya juga.
Selain masih dilarang sama Mama-Papa, kok kayaknya aneh ya kalo aku punya pacar? Gatau deh kenapa, aneh aja. Aku mau pelihara hamster aja dilarang, apalagi pelihara cowok (?!).
Tapi bukan berarti aku mau jomblo selamanya loh, suatu hari kalo aku udah diizinin punya peliharaan, dan udah cukup umur, aku mau punya pacar. Tapi yang serius, bukan yang main-main. Soalnya aku pengen kaya Mama, yang nggak pernah pacaran sebelum nikah sama Papa. Kan kesannya gimanaaaa gituu.. Keren.
Jadi nanti kalo aku udah jadi sarjana, udah punya kerjaan, udah cukup umur, aku mau punya pacar. Terus nikah deh! Punya anak deh! Bikin rumah deh! Terus keliling dunia sama keluarga aku nanti. Yah kalo yang terakhir nggak terkabul juga nggak apa-apa sih, tapi semoga semuanya terkabul! Amiiinnnn..
Sebenernya aku nggak neko-neko, aku pengen punya suami yang seiman, tanggung jawab, cerdas, suka anak-anak. Kalo bisa jago masak juga, secara aku kan nggak bisa. Jadi nanti anak-anak aku nggak akan kelaparan walaupun mamanya nggak bisa masak, hohoho..
Satu hal lagi yang aku pengen banget. Aku pengen setiap malem, yah minimal seminggu sekali. Aku bisa keluar sama suami aku, keliling kota sambil wisata kuliner.
Soalnya gini, di Tasik aku punya satu makanan favorit, sebenernya sih banyak, tapi yang satu ini spesial banget. Namanya Mi Cokro. Jadi Mi goreng gitu, dicampur sama sayur, potongan ayam, telur, pokoknya enak bangeettt. Aku udah suka sejak SD, jadi rasanya nempel banget dihati (cieelah). Jadi si Mas Cokro ini jualan setiap malam di samping alun-alun, deket Puskesmas. Cuma pake roda sama tempat duduk dadakan, tapi kesannya beda. Anget deh.
Biasanya Papa beliin kalo pulang ngaji, Mama suka rada marah-marah kalo aku minta Mi Cokro, katanya nggak higienis. Tapi buktinya aku ga pernah sakit kalo makan Mi Cokro, malah tidur nyenyak, gara-gara kekenyangan. Heheh
Seru kali ya, kalo malem-malem ke makan disana? Sambil liat lampu kota, sambil kena angin malam, biar kedengerannya kampungan, itu salah satu impian aku. Semoga terwujud, amin.



Rabu, 04 Januari 2012

Just Dream

Kemarin malem aku mimpi aneh.
Ceritanya gini..
Aku lagi jalan terus papasan sama dia, tapi anehnya kami nggak saling menghindari atau buang muka seperti yang biasa terjadi.
Dia malah bilang dengan ringan, "Kalo papasan sapa dong!"
Aku senyum terus rangkul dia, "Iya, yang dulu nggak usah dipikirin ya?"
Dia mengangguk tanda setuju, dia juga ikut merangkulku. Kami berjalan sama-sama seakan itu bukan hal yang aneh. Seakan-akan nggak ada yang pernah terjadi.
Waktu itu aku udah nggak deg-degan lagi, seakan dia orang biasa.
Waktu bangun aku jadi kepikiran. Seandainya aku bisa berteman sama dia pasti seru.
Padahal dulu kami biasa aja. Cuma gara-gara hal konyol semuanya hancur. Coba kalo waktu itu aku bisa lebih cuek, mungkin sekarang aku bisa sapa dia kalau papasan dijalan. Coba kalo dulu aku nggak seegois itu, mungkin aku nggak akan beranggapan dia orang jahat.
Tapi sekarang itu cuma 'seandainya', kenyataannya aku nggak pernah punya cukup keberanian untuk nyapa apalagi minta maaf sama dia. Semuanya terlambat, dan sayangnya belum ada yang menemukan mesin waktu.